Catatan Diskusi “Keberlanjutan Pasar Santa”, 22 Maret 2015 @Pasar Santa

Berikut rangkuman dari diskusi hari Minggu lalu, yang telah ditembuskan kepada seluruh pembicara:

1. Djangga Lubis, Direktur Utama PD Pasar Jaya

2. Dian Estey, Ketua Perkumpulan Pedagang Pasar Santa

3. Marco Kusumawijaya, Direktur Rujak Center for Urban Studies

4. Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif

Adapun beberapa hal pokok yang disepakati bersama dalam diskusi tersebut:

1. Bahwa Pasar Santa berkesempatan menjadi model ruang publik alternatif dan inkubator UKM serta kegiatan kreatif lainnya jika berbagai jenis pedagang dari berbagai latar belakang dapat terus hidup berdampingan.

2. Bahwa Pasar Santa hanya dapat berkembang jika tidak ada pedagang lama yang harus tergeser karena tak sanggup membayar sewa yang terus naik karena tingginya permintaan kios. Jika tidak, maka seperti kasus-kasus gentrifikasi yang telah jamak terjadi di kota-kota besar lain di dunia, Pasar Santa pun akan kembali mati atau stagnan.

3. Bahwa solusi penting yang diperlukan saat ini adalah adanya sebuah mekanisme yang dapat mengontrol melambungnya harga sewa kios sehingga pedagang yang ada sekarang dapat bertahan.

Adapun tindak lanjut yang disepakati dalam diskusi tersebut:

1. Bahwa PD Pasar akan melakukan penilaian untuk menentukan harga yang wajar untuk kios di Pasar Santa dengan menggunakan pihak independen dengan juga melibatkan pedagang pasar.

2. Setelah harga sewa yang wajar ditentukan, PD Pasar Jaya bekerja sama dengan pihak pedagang akan dalam mensosialisasikan harga sewa ini.

3. Disepakati pula bahwa untuk kontrak sewa dan jual beli kios, dokumen sewa dan jual beli harus diketahui pihak PD Pasar Jaya. Dan untuk penjualan/penyewaan yang dilakukan PT IWN agar diprioritaskan kepada pedagang lama dan diketahui oleh PD Pasar Jaya.

4. Pak Triawan juga menyampaikan wacana kemungkinan adanya skema subsidi terhadap usahawan baru di Pasar Santa. Konsep ini akan digodog lebih lanjut di Badan Ekonomi Kreatif. Pak Triawan pun akan menyampaikan perkembangan isu pasar santa ini sebagai salah satu laporan beliau ke Presiden.

Terkait penentuan harga wajar kios ini, bersama email ini saya sampaikan pula hal yang menurut kami di Perkumpulan Pedagang Pasar Santa perlu untuk dibahas lebih lanjut:

1. Saat harga sewa kios yang wajar ditetapkan, perlu dipikirkan payung regulasi sehingga penerapan kontrol harga ini bisa menjadi efektif. Tanpa sebuah terobosan berupa aturan harga sewa yang mengikat dan sosialisasi yang intensif untuk semua kios baik yang sekarang masih ada ditangan PT IWN maupun yang telah dimiliki perorangan, dikhawatirkan harga sewa tetap tidak bisa dikontrol.

2. Metode penilaian harga sewa pun perlu dipikirkan dengan masak-masak. Kami dari pihak pedagang merasa penilaian kios per kios akan cukup sulit dan memakan waktu yang panjang. Untuk itu kami mengusulkan penetapan kenaikan yang dibedakan per lantai sama seperti implementasi tarif sewa yang flat pada tahun 2014 kemarin. Kami menyepakati bahwa dengan perkembangan Pasar Santa sekarang, harga kios di lantai atas memang sepantasnya lebih tinggi dari lantai lainnya. Untuk itu, kami mengusulkan kenaikan wajar sebesar 10-20% kenaikan untuk lantai basement dan bawah dari harga sekarang yang berkisar di Rp. 5jt-6jt/tahun/kios menjadi 6-7juta/tahun. Sementara untuk lantai atas bisa diterapkan lebih tinggi menjadi 8-9jt/tahun.

Demikian catatan kami atas diskusi yang telah berlangsung dengan baik. Kami meyakini Pasar Santa memiliki potensi yang besar sekali yang jika dikelola dengan baik bisa menjadikannya tidak hanya model sebuah pasar tetapi juga sebuah ruang publik alternatif yang begitu dibutuhkan warga Jakarta.

Kami dari Pihak Perkumpulan Pedagang Pasar Santa siap untuk terus berkoordinasi dan juga ikut berkreasi dengan ide-ide kreatif untuk kemajuan Pasar Santa itu sendiri.

Catatan Diskusi “Keberlanjutan Pasar Santa”, 22 Maret 2015 @Pasar Santa

Siaran Pers : Tantangan keberlanjutan Pasar Santa sebagai ruang publik alternatif di Jakarta

“Ngobrolin Pasar Santa” Mendengar kembali suara tentang Pasar kita. Foto oleh Yunaidi Joepoet/National Geographic Indonesia @yunaidijoepoet

Jakarta, 23 Maret 2015 – Selama enam bulan terakhir, Pasar Santa menjadi sorotan publik karena berubah dari pasar yang sepi menjadi salah satu tujuan kunjungan populer di Jakarta.

Tantangan muncul karena seiring tingginya minat akan kios-kios di Pasar Santa harga sewa dan jual kios pun terus meningkat. Hal ini berdampak pada kelanjutan usaha sebagian besar pedagang kecil di Pasar Santa yang terancam tergusur karena tidak lagi sanggup menjangkau harga sewa yang dapat membubung tinggi.

Untuk mencegah hal ini, perkumpulan pedagang pasar santa melakukan kampanye #SustainableSanta salah satunya melalui petisi di http://www.change.org/sustainablesanta yang meminta pemerintah untuk melakukan kontrol terhadap harga sewa kios sehingga usaha-usaha kecil Pasar Santa tidak tergusur oleh spekulan dan pemilik modal yang lebih besar yang dapat membayar harga sewa/jual kios dengan harga yang jauh lebih tinggi. Informasi dan cerita lebih lanjut mengenai kampanye ini bisa diperoleh di http://www.pasarsantablog.wordpress.com

Sebagai bagian dari kampanye tersebut, pada Minggu 22 Maret 2015 bertempat di lantai dasar Pasar Santa dilakukan diskusi antara para pedagang bersama pihak-pihak terkait membahas hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kelangsungan Pasar Santa. Hadir dalam diskusi Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, Marco Kusumawijaya Direktur Rujak Center for Urban Studies, serta para pedagang pasar. Pedagang Pasar Santa diwakili oleh Dian Estey dan Teddy W Kusuma, Ketua serta pengurus Perkumpulan Pedagang Pasar Santa.

Diskusi tersebut menyepakati bahwa perkembangan pasar Santa adalah hal baik yang harus dijaga keberlanjutannya. Pasar Santa dapat menjadi salah satu model pengelolaan pasar sekaligus sebuah ruang publik alternatif dimana usaha dan kegiatan kreatif anak muda dapat berdampingan dengan pedagang-pedagang tradisional yang telah menjalankan usaha di pasar sejak dahulu. Untuk itu upaya-upaya yang cepat dan tegas diperlukan untuk mencegah tergusurnya usaha kecil di Pasar Santa oleh pemilik modal yang lebih besar.

Apa yang dialami Pasar Santa dapat menjadi semacam “kopi pahit” karena ia jadi korban dari kesuksesannya sendiri. Harus ada peraturan tentang harga sewa yang rasional untuk para pedagang dan PD Pasar jaya harus segera mencari solusinya.” Kata Marco Kusumawijaya

Beragam industri kreatif anak muda di Pasar Santa harus bisa dikembangkan, tetapi di saat yang sama pedagang lama juga harus dipertahankan.” Ujar Triawan Munaf.

Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis mengatakan pihaknya akan segera mencari solusi untuk hal ini. Djangga Lubis mengatakan, “Saya akan menugaskan konsultan independen untuk menaksir harga sewa yang wajar untuk kios-kios di Pasar Santa. Dalam proses itu, pihak pedagang juga akan dilibatkan.”

Terhadap tindak lanjut yang disampaikan Djangga Lubis, Ketua Perkumpulan Pedagang Pasar Santa, Dian Estey, mengatakan: “Kami menyambut baik tawaran PD Pasar Jaya untuk bersama-sama mendiskusikan harga sewa yang ‘wajar’. Kami berharap hal ini dapat segera terealisasi dan PD Pasar Jaya juga dapat memberikan payung regulasi terkait harga sewa untuk melindungi semua pedagang yang saat ini ada di Pasar Santa.”

Bersama dengan semakin banyaknya masa sewa pedagang Pasar Santa yang akan habis di pertengahan tahun ini, solusi yang cepat dan tegas dari PD Pasar Jaya sangat diperlukan untuk tetap mempertahankan fungsi pasar sebagai tempat usaha bagi UKM dan tak satu pun pedagang lama yang terpaksa harus menghentikan usahanya karena tak sanggup menjangkau harga sewa yang membumbung.

——————————–

Kontak Perkumpulan Pedagang Santa : pasarsanta@gmail.com

Siaran Pers : Tantangan keberlanjutan Pasar Santa sebagai ruang publik alternatif di Jakarta

“Apa Yang Perlu Kamu Tahu Tentang #SustainableSanta”

*English version at the end.

photo by CatatanFani
photo by CatatanFani

Jauh sebelum kampanye #SustainableSanta dimulai, kami banyak menerima pertanyaan mengenai Pasar Santa, keberadaan kami di pasar ini, dan banyak hal terkait lainnya.

Di bawah ini adalah beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering kami dapatkan.

1.Kenapa Pasar Santa?

Kami cinta pasar. Kami suka berkeliaran di pasar-pasar baik di Indonesia maupun di tempat-tempat lain yang kami kunjungi. Dan tentu, tawaran harga sewa yang diberikan saat itu pas di kantong. Harga yang terjangkau itu memang datang dengan tantangan tersendiri membawa pelanggan ke pasar dan kami memutuskan untuk mengambil tantangan ini.

2. Lalu, apa yang terjadi?

Kami memulai usaha kami di Pasar Santa tanpa rencana besar; dan kamipun tumbuh secara organik. Sambutan hangat yang diterima datang di luar perkiraan kami. Dalam waktu singkat, hampir seluruh kios di lantai atas telah terisi dan permintaan akan sewa kiospun terus mengalir. Tingginya permintaan tentu menaikan harga sewa kios dan memarjinalisasi mereka yang telah ada di pasar Santa sebelum kami.

3. Kalau memang begitu, mengapa kalian tidak pindah keluar dari Pasar Santa?

Andai jawabannya bisa semudah itu.

Secara sederhana, walaupun kami beberes dan pindah besok, tidak akan banyak menolong, karena, seperti yang telah kami sampaikan di atas, permintaan akan kios di pasar Santa saat ini sangat tinggi, dan kebanyakan dari permintaan ini datang dari mereka yang tidak banyak tahu mengenai sejarah Pasar Santa dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Peminat kios di Pasar Santa saat ini bersedia menyewa kios dengan harga yang sudah melambung dan kami juga menemukan semakin banyak spekulan maupun bisnis-bisnis besar yang ingin masuk ke lingkungan Pasar Santa. Membiarkan mereka masuk akan semakin memperburuk keadaan.

Walaupun banyak yang menganggap kenaikan harga kios sepertinya tidak akan terlalu mempengaruhi pedagang-pedagang muda di Pasar Santa, ternyata banyak dari mereka yang menggantungkan hidupnya di Pasar.

Jadi, walaupun beberapa dari kami memiliki pilihan untuk meninggalkan Pasar Santa apabila kami tidak lagi sepakat dengan cara Pemda DKI dan PD Pasar Jaya menangani permasalahan Pasar Santa, banyak yang tidak memiliki pilihan yang sama. Kami masih percaya bahwa penyelesaian yang bijak dari sisi Pemda dan PD Pasar Jaya dapat membantu Pasar Santa berkembang dengan sehat dan baik karena pedagang baru maupun lama dapat saling bekerjasama untuk kemajuan Pasar yang dapat dinikmati oleh semua.

4) Berapa banyakkah kenaikan sewa saat ini dan bukankah ini suatu fenomena normal dalam sistem kapitalis (Mekanisme Pasar)?

Mengenai kenaikan sewa saat ini memang sangat relatif karena tidak adanya standar tertentu yang dapat kami gunakan dengan adil. Perlu dipahami bahwa walaupun PD Pasar Jaya yang bertanggung jawab dalam manajemen pasar, saat ini tidak memiliki satu kiospun di Pasar. Kios-kios dimiliki oleh pemilik pribadi dan perusahaan pengembang swasta yang saat ini menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan harga sewa dan harga jual kios. Pasar Jaya sejauh ini belum mampu secara efektif menanggulangi hal ini. Walaupun perwakilan PD Pasar Jaya di Santa sudah sangat terlibat dan juga prihatin dengan situasi saat ini, beliau sangat membutuhkan dukungan regulasi dan kekuasaan dari pihak yang lebih tinggi.

Apakah ini bentuk Kapitalisme? Pertama, PD Pasar Jaya berwenang atas pasar dan sebagai bagian dari pemerintah, Pasar Jaya memiliki tanggung jawab untuk memastikan perkembangan pasar yang positif bagi komunitas pasar maupun sekitarnya (walaupun ini sebenarnya merupakan tanggung jawab semua bisnis, tanggung jawab Pasar Jaya sebagai bagian dari Pemerintah mungkin lebih dapat dipahami).

Secara lebih eksplisit, Pasar Jaya di websitenya menyatakan bahwa salah satu misinya adalah untuk memberikan prioritas kepada pedagang lama untuk dapat memajukan usahanya. Inilah yang saat ini tidak terjadi di Pasar Santa.

Yang kedua, terlepas dari apakah Pasar Jaya merupakan BUMN, kapitalisme seharusnya adalah mengenai keterbukaan informasi dan kesempatan bisnis yang sama alias a fair playing field. Saat ini tidak ada standar yang digunakan untuk menjamin kenaikan harga kios, harga kios, persyaratan kontrak, dll. Penyebaran informasi juga tidak terjadi secara terbuka dan jujur. Ini semua adalah contoh atmosfer bisnis yang tidak sehat baik untuk bisnis maupun secara umum.

Photo by Dreamersradio
Photo by Dreamersradio

5) Apakah kalian menentang para korporat besar dan berusaha menjadikan Santa sebuah pasar yang “eksklusif”?

Pertanyaan ini sering kami terima karena banyak kegiatan kampanye kami bertujuan untuk melindungi pedagang lama dan juga karena kami ingin mengurangi kehadiran promosi para korporat besar di dalam lingkungan Pasar.

Kami tidak anti korporat besar.

Kami percaya bahwa bisnis korporasi memiliki peran penting dalam perekonomian kita. Walaupun begitu, tidak kemudian berarti tidak adanya limitasi atas pengaruh dan bagaimana mereka beroperasi. Pasar menyediakan dua hal; tempat berjualan dan ruang alternatif dibandingkan dengan pusat perbelanjaan, supermarket atau toko pinggir jalan.

Pasar unik dalam dua hal penting: 1) tujuan dan fungsinya tidak selalu mengenai uang, 2) Pasar adalah ruang semi-publik. Pasar hadir untuk menyediakan tempat dan kesempatan bagi pedagannya menawarkan berbagai barang kebutuhan dalam harga wajar. Pasar juga ruang yang cenderung berorientasi komunitas. Kami percaya pentingnya mempertahankan aspek-aspek penting tersebut yang membedakannya dengan tempat lain.

Sustainability membutuhkan usaha yang konstan dalam hal perencanaan, manajemen, dan pertimbangan peran dan pengaruhnya untuk semua stakeholder. Kami berharap bahwa Santa dapat memberikan pelajaran penting dan contoh untuk banyak pasar lainnya di seluruh negeri. Tentunya dengan peran aktif kita dalam mengelola perkembangan pasar yang positif.

6) Apakah kehadiran pedagang baru telah membantu bisnis pedagang lama?

Apabila tidak, mengapa harus mendukung petisi #SustainableSanta?

Pertanyaan ini seharusnya tidak ada hubungannya dengan isi petisi #SustainableSanta karena yang diusung petisi ini adalah perlindungan terhadap SEMUA pedagang supaya tidak ada yang “tergusur”.

Kembali ke pertanyaan apakah kehadiran pedagang baru membawa peningkatan bisnis bagi pedagang-pedagang yang sudah lebih dulu ada, jawabannya adalah ya, mungkin sedikit. Untuk kebanyakan pedagang Pasar Santa, bisnis mungkin tetap seperti semula. Ini kemudian membawa kita ke tantangan terbesar dalam perwujudan “Sustainable Santa”. Bagaimana istilah ini bisa diwujudkan lebih dari sebuah ajakan kepada berbagai macam orang untuk datang kembali ke pasar, namun juga untuk mengajak orang untuk melihat pasar sebagai tempat pemenuhan kebutuhan – primer dan sekunder.

Berbagai ide sudah ada dalam rancangan kami bersama namun cepatnya perkembangan pasar santa dan munculnya masalah-masalah yang lebih mendesak, membuat banyak dari ide-ide ini belum dapat direalisasikan. Tetapi semua ini tetap menjadi bagian yang terintegrasi dalam kampanye #SustainableSanta karena semua usaha ini tidak akan ada artinya kalau pedagang-pedagang yang dimaksud sudah terusir keluar.

Kami menyadari semua ini merupakan perjuangan panjang yang tidak akan berhenti di petisi ini. Kami juga menyadari bahwa perwujudan pasar yang seimbang dan sehat membutuhkan komitmen dan kerja keras dari semua pihak. Termasuk Anda.

========

English

“What You Need to Know about #SustainableSanta”
24Hour Comic Challenge, photo by Post
24Hour Comic Challenge, photo by Post

Even before we started our #SustainableSanta campaign, many questions have been asked about Pasar Santa and, our existence.

We have compiled some of the most frequently asked questions, and provided some answers, below.

1. Why Pasar Santa?

We love hanging out in local markets both in Indonesia and abroad. They are great opportunity to meet local people and experience the local culture. We love Indonesian Pasars have a special connection with their local communities. Pasar Santa is a market that some of us have frequented and enjoyed for years, and we saw an opportunity on the top floor to try something different. And yes, it was affordable, so we thought “why not?”. The rent we were offered at the time was affordable and fit our bills. The initial challenge became bringing customers in to the marketand we decided to rise up to the challenge.

2. Then what happened?

We started off without any grand plans; things grew organically. The warm response we saw after just the first few months was certainly unexpected. Soon, all the stalls were filled and the continued outpouring of interests continues. This has inadvertently caused the prices of stalls to rise and marginalized the tenants who were already there before us.

3. If that’s the case, why don’t you move out?

If only things were that simple, we would move out.

Quite simply, if some of us started to pack up and leave, it wouldn’t help the situation. There’s a whole batch of people waiting for a chance to have a kiosk in Pasar Santa, most of whom don’t know or understand the background of the market and the changes that have been happening, and who are willing to pay inflated rents just to be a part of what has become such a popular market. It’s important to also understand that there are an increasing number of more corporate businesses trying to get a space at Santa, and that letting in more of these types of businesses will exasperate the issues we’re talking about here.

Additionally, even though most of the newer tenants don’t face the same kind of risk as the older tenants if rent prices continue to go up, for many new tenants Santa has become their primary form of income as well. So while leaving the market is something that many of us could do if were are unhappy about the direction of Pasar Santa and how PD Pasar Jaya and the Jakarta government are managing its development, for those that have committed their income to their kiosk in Santa that is a much more difficult action to take.

While this current issue with rent increases and tenant removal is a serious threat to older tenants, if we are able to get more proactive management and a set of fair standards for kiosk procurement and development, newer tenants do offer the potential for helping develop new initiatives at the market that could improve business for both older and newer tenants.

2) How much has rent increased? And isn’t this just how capitalism works?

Regarding rent increases, it depends because there is no standard being employed for this. While PD Pasar Jaya is in charge of the pasar’s management, it does not own any of the kiosks. Most of the kiosks are owned by a private developer, who has been employing a variety of means on a case by case basis to increase rent and kiosk prices. Pasar Jaya has thus far been unwilling or unable to effectively regulate the current situation. While Pasar Jaya’s representative at Santa is very involved and concerned with the changes at Pasar Santa, he does not have the higher level support or power to deal with many of these issues.

Is this capitalism? First of all, Pasar Jaya manages the market and as a state-owned enterprise they have a responsibility (yes, just like we do) to ensure positive development for their markets that benefits the whole community. [Actually, all companies should have this responsibility but since Pasar Jaya is connected to the government at least the responsibility is more understood].

Photo by Republika 2012
Photo by Republika 2012

Even more explicit, one of Pasar Jaya’s functions according to their own website is to give “priority to the rights of the older merchants to achieve new business development.” This priority is not being provided for right now at Pasar Santa.

Secondly and regardless of Pasar Jaya being a state-owned enterprise, capitalism is still supposed to be about the open availability of information and a fair playing field. There are currently no standards being employed for rent increases, for kiosk pricing, for contract terms, etc. Information is not being shared freely or honestly. This is not good or fair for tenants or for business in general.

3) Are you anti-big business and trying to make Santa an “exclusive” market?

We have been asked this both because of this campaign’s efforts to protect older tenants and because we have tried to limit the amount of corporate promotion and presence in the market. Still, we’re not anti-big business. We understand that large businesses serve important functions for the economy. However, that doesn’t mean there shouldn’t be limitations on their influence and where they can function. Pasars provide both an alternative marketplace, and an alternative space, compared to malls, supermarkets, and corner stores. They are also unique in two important ways: 1) their primary goal and function is not profit; and 2) they are in general semi-public spaces. Pasars exist to provide and help develop opportunities for their sellers, and to offer a variety of goods to the public at fair prices. They are also very much community-oriented spaces. We believe it’s important to protect those aspects of a pasar that distinguish it from other marketplaces, and to promote those aspects which can help it develop and survive as a space that is focused on its community.

Sustainability requires consistent efforts around forward planning, management, and considering the roles of and impacts for all stakeholders. We hope that eventually Santa can provide some positive lessons and examples for pasars across the country, but this means we need to take a very active role in managing the market’s development.

4) Has the business of the older tenants improved since the newer tenants
arrived? If not, what is the point of the petition?

This question shouldn’t affect a decision to support or not support our campaign because our basic aim is to ensure that older tenants aren’t being forced out. Whether or not we’ve had a positive effect on older tenant business, people should still care that tenants are starting to be kicked out. You can support the campaign and still be concerned about the long-term impact that the newer tenants are having on the market.

Ok, but back to the question: has business improved for older tenants? For some sellers, the answer is probably yes, a little. For most though, business seems to be about the same as always – slow. This brings us to one of the biggest challenges related to the long-term sustainability of Santa as a “pasar”: not only encouraging more people, and different types of people, to come to a pasar, but also getting them to consider shopping at the older tenants as well as at newer kiosks. This was one of the main reasons many of us decided to open a kiosk in Pasar Santa in the first place – to try to encourage different crowds to come into a market and to over time change people’s attitudes about this pasar and pasars in general. With the speed that the market has developed recently, and with how crowded the market gets now on weekends, it has been difficult to focus as a group on this aspect of a sustainable Pasar Santa. As part of this campaign, we are already working to refocus on this aspect. This sustainability certainly won’t happen though if many of the older tenants get kicked out of the market. This campaign is a key piece if Santa is going to become a sustainable pasar. Still, we do recognize that this is just the first step of a much longer process to improve the situation in the market for everyone and to have a healthy balance of older and newer tenants who are supportive of each other.

*) Text by Steven Ellis and translated to Bahasa by Dian Estey

“Apa Yang Perlu Kamu Tahu Tentang #SustainableSanta”

Mimpi Dalam Botol

kami anak pasar

“Kalau kenangan kita bisa dimasukan dalam botol, pasti sudah berkrat-krat botol ini. Teman yang belum setahun kenal, menghilang satu-satu seperti dalam sekejap” – Homie, Anak Pasar

Perlahan tapi pasti, kalimat ringan yang keluar dari mulut Homie ini semakin terasa nyata. Kios yang ditempati Homie sendiri pun saat ini sudah berpindah tangan dua kali. Homiepun harus pindah dari kiosnya di bulan-bulan mendatang ini ketika kontrak sewanya habis.

Kurang dari setahun lalu, kami seliweran di lorong-lorong pasar yang sepi dan gelap membawa sepotong mimpi dan harapan untuk bisa menciptakan sebuah ruang alternatif. Sebuah ruang di tengah kota yang semakin tak terjangkau, dimana mimpi-mimpi kecil kami bisa memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Sebagaimana layaknya sebuah bisnis, tentunya kami pun menghitung resiko yang kami hadapi.

Yes, the odds are against us but it comes at the risk we felt comfortable to bear.

And so we started.

Satu persatu kamipun mulai membuka pintu untuk pelanggan yang tak pernah kami bayangkan akan datang dari mana.

Modal kami hanya smartphones pribadi, akun social media dan ide-ide kreatif. Perlahan tapi pasti, semakin banyak yang mau menyempatkan diri untuk datang ke pasar kami. Kenyamanan pendingin udara dan wifi, kami gantikan dengan tawa dan uluran persahabatan. Walau awalnya banyak yang masih canggung untuk berbagi meja dengan strangers, akhirnya banyak persahabatan yang lahir justru dari kecanggungan-kecanggungan ini.

Lorong-lorong gelap ini pun kemudian kembali memiliki hidup. Penuh dengan wara wiri orang dan obrolan yang seringnya tak penting. Satu persatu, teman-teman kami pun bertambah. Banyak juga yang kemudian meninggalkan pekerjaan tetapnya untuk bisa lebih fokus menghidupkan benih mimpi yang kini mulai terlihat hidup.

Kami datang ke Pasar Santa sebagai tamu yang diterima dengan baik oleh penghuni pasar sebelum kami. Kami datang dengan mimpi-mimpi kami dan ide-ide idealisme yang mungkin terdengar naïf.

Kami ingin dapat berdampingan dengan mereka yang sudah lebih dahulu ada di pasar ini. Kami ingin mimpi kami bisa tumbuh di suatu ruang yang sarat dengan memori masa kecil kami. Kami ingin dapat belajar dan tumbuh bersama mereka yang jauh lebih berpengalaman daripada kami. Kami ingin memiliki kesempatan untuk dapat sebaliknya juga menjadi berguna bagi mereka yang ada sebelum kami.

Membawa pasar yang termarginalisasi secara sosial kembali ke center stage bukan untuk kemudian merubahnya menjadi korban gentrifikasi.

Kami percaya pada kekuatan ekonomi kerakayatan untuk pertumbuhan yang lebih merata dan berkesinambungan. Kami percaya pada peran pasar sebagai inkubator ekonomi bukan untuk ajang lomba penanam modal dan arena main spekulan.

So you have the money to spend?

Tolong jangan gunakan uang kamu untuk menyewa atau membeli kios di pasar kami dengan harga di atas rata-rata. Mungkin harga ini tidak seberapa dibanding harga sewa di mal, tapi inilah yang membuat teman-teman kami akan terusir.

Kami ingin dapat membantu teman-teman lain yang juga memiliki ide-ide kreatif dengan menciptakan ruang-ruang alternatif lainnya.

Make your own Pasar Santa and make it sustainable.

Help us make ours sustainable.

Kalau kamu setuju dengan apa yang kami perjuangkan, dukung kami dengan meluangkan sedikit waktu kami untuk menandatangani petisi anak pasar.

Salam hangat dari #anakpasar

Mimpi Dalam Botol